BERBURU SUNSET DI YOGYAKARTA

 

author : Soraya
 

Sebenarnya berburu sunset kali bukan masuk area Yogyakarta karena di kota pelajar itu sendiri tidak banyak tempat wisata selain Keraton, Taman Sari, Parangtritis, dan Parangkusumo. Dari sekian tempat itu yang menurut saya merupakan lokasi hunting foto menarik hanyalah Taman Sari dan Parangkusumo tak jauh dari Parangtritis. Untuk lokasi sunset saya memilih gumuk pasir Parangkusumo. Sopir mobil sewaan saya saja tidak tahu ada gumuk pasir yang jadi spot foto menarik. Saat menuju Parangtritis, pak sopir cerita kalau hari itu termasuk hari dimana banyak pengunjung melakukan ritual doa. Mendengar nama Parangtritis, saya agak merinding juga karena sering mendengar kisah tentang Parangtritis sebagai pintu masuk Istana Ratu Laut Selatan. Tapi menurut pak sopir tidak seseram itu kok karena di waktu malam banyak cafe dengan cewe-cewenya.

Akhirnya ketemu juga gumuk pasir Parangkusumo ini.Jujur sih tebak-tebakan. Setelah beberapa ratus meter melewati Parangtritis, saya melihat hamparan padang pasir. Langsung saya suruh pak sopir berhenti.Dari landscape nya saya yakin itu yang dimaksud gumuk pasir Parangkusumo. Angin kencang berhasil menumbangkan tripod saya beberapa kali hingga kamera penuh dengan pasir.Untung saja tidak sampai rusak.Saat itu sepi hanya beberapa pengunjung yang sedang foto-foto.Masuknya gratis dan bebas. Lokasi ini tempat pembuatan video klip Agnes Monica dan Letto. Seperti gurun pasir, gumuk Parangkusumo ini memiliki patern bergelombang yang indah. Patern yang terbentuk di permukaan pasir ini berasal dari embusan angin pantai.

Lokasi hunting sunset saya yang lain adalah candi Boko. Kali ini saya naik motor. Memang agak jauh dari kota, tapi jika kita sudah terbiasa hidup di Jakarta jarak dari kota Yogyakarta ke Candi Boko masih ringan lah, apalagi tidak macet kok. Sebelumnya saya ke candi Prambanan dan membeli tiket terusan ke Candi Boko.Saya tidak antusias sih ke candi Prambanan, tapi prinsip saya yang penting saya lihat karena sudah tanggung ke lokasi sekitar.

Dengan tiket terusan ini harganya lebih murah ketimbang beli tiket terpisah.Kita juga bisa ikut mobil yang disediakan dari candi Prambanan-candi Boko PP. Tapi operasional mobil jamnya terbatas hanya sampai pukul 16.00 WIB. Karena saya mau nunggu sunset maka saya memutuskan untuk naik motor saja agar lebih mudah pulangnya.

Setelah bertanya sana sini dan melewati jalan menanjak dengan motor, akhirnya saya tiba di candi Boko yang dikelola dengan baik. Ada cafe disitu tempat kita bisa melepas lelah sambil menikmati pemandangan.Candi Boko ini memiliki pemandian dan cukup luas.Saya lebih suka candi ini ketimbang candi Prambanan bahkan candi Borobudur, meski tidak megah tapi terasa damai. Dengan landscape berupa hamparan padang rumbut serta segerombolan domba, berasa seperti di padang rumpus Australia deh hehehehehe

 

 
 
Back
 
     
  COMMENT  
 

 
 

copyright Soraya